Pages

Saturday, 1 November 2014

“Saya ini cocoknya usaha apa ya?”


Ada empat hal yang perlu dikembangkan dalam proses mengembangkan sebuah bisnis usaha kecil atau usaha menengah. Empat hal itu adalah yang pertama pola organisasi dan administrasi yang baik. Kemudian yang kedua, perpaduan aset fisik berwujud sebagai sumber daya manusia alam, serta aset yang tidak berwujud seperti hal-hal yang mungkin bisa digali dari sesuatu yang menjadi value dari usaha kecil menengah tersebut. Yang ketiga adalah bagaimana sebuah umkm itu bisa secara adaptif merespon pasar yang selalu berfluktuasi. Yang keempat adalah budaya organisasi.

1.mencoba mensharingkan bagaimana sebaiknya pola organisasi dan administrasi yang baik dikembangkan untuk sebuah usaha kecil dan menengah.Sebuah usaha kecil dan menengah biasanya masih mengalami kesulitan untuk membangun sebuah struktur administrasi yang baik. Sebagai misal sederhana adalah berkaitan dengan pembukuan atau pencatatan keuangan

2.Dikembangkan upaya-upaya untuk mengidentifikasi mana aset pribadi, dan mana aset usaha. Misalkan, kalau anda mempunyai sebuah toko, maka toko ini dianggap sebagai aset usaha yang terpisah dari aset pribasi anda. Kendaraan yang mensupport usaha anda, tentunya juga harus dipisahkan sebagai aset usaha dibandingkan, atau jangan dicampurkan dengan sebagai aset pribadi.


3. Bisa juga mengawali dengan menciptakan suatu mekanisme atau standar untuk menetukan pemilihan supplier atau pemasok yang cukup baik.Kekuatan dari usaha kecil dan menengah adalah kondisi dimana usaha kecil dan menengah itu memiliki sumber daya yang cukup bernilai.Kebiasaan berpikir kreatif dan inovatif inilah yang memungkinkan usaha kecil dan menengah mampu bertahan dalam kondisi perekonomian dan kondisi persaingan yang luar biasa saat ini.Resources yang ketiga, yaitu adanya kemampuan untuk melakukan adaptasi terhadap pasar.

Whidya Utami 



“Saya ini cocoknya usaha apa ya?”
~ Nur Agustinus ~Apa itu berpiki efektual? Lawan dari berpikir efektual adalah berpikir kausal. Berpikir secara efektual secara sederhana digambarkan sebagai seseorang yang melihat di lemari esnya tersedia apa, di dapurnya ada apa, di lemarinya ada apa, dari sana kemudian dikumpulkan bahan-bahan yang dimiliki, lalu bisa membuat masakan apa. Tentunya ada banyak masakan yang bisa dikerjakan atau dihasilkan dari bumbu-bumbu atau bahan-bahan yang sudah dimiliki oleh ibu tersebut. Ini berpikir efektual.
,
Sebetulnya yang paling tahu adalah dirinya sendiri karena kalau misalnya kemudian dia diberi tahu oleh orang lain, “Kamu itu cocoknya bisnis dibidang ini, misalnya, atau di bidang itu”, maka dia akan berusaha mencari, melengkapi apa yang kurang. bisa mengerjakan bisnis itu tanpa harus menunda-nunda. Ini prinsip efektual yang paling basic, paling prinsip. Jadi artinya, berpikir dengan dari diri sendiri. Bukan dari yang di luar kita. Selanjutnya akan kita bahas satu per satu mengenai prinsip-prinsip dalam berpikir secara efektual ini.

Ada lima prinsip dalam teori efektuasi,yaitu   :

Prinsip yang pertama adalah Bird In Hand. Bird In Hand adalah ungkapan dalam lingkungan di Amerika yang berarti tentang apa saja yang dimiliki oleh kita. Apa saja yang ada di tangan kita sebetulnya. Ini bicara tentang tiga hal, yaitu siapa diri kita, yang kedua adalah apa yang bisa kita lakukan, dan yang ketiga adalah siapa saja yang kita kenal. Kalau kita kembali pada hakikat Bird In Hand ini, siapa diri kita itu bicara tentang misalnya passion saya itu apa? Hobi saya apa? Saya ini lulusan apa? Saya itu bisa apa? Kemudian juga bisa, mungkin saya dari keluarga apa? Itu adalah apa-apa saja, atau siapa saya.

Prinsip yang kedua adalah affordable loss. Affordable loss artinya sejauh mana entrepreneur itu siap menanggung kerugian. Setiap usaha pasti ada resiko. Resiko itu beraneka ragam. Bisa resiko uang, resiko waktu, bisa resiko tenaga, dan sebagainya.

Prinsip yang ketiga adalah lemonade principle. Lemonade principle itu juga merupakan ungkapan yang ada di Amerika, yaitu ketika hidup terasa seperti lemon, lemon berarti kecut, yang rasanya kecut, buatlah menjadi lemonade. Lemonade itu limun. Seorang entrepreneur harus bisa punya kreatifitas, harus punya mental yang tahan uji. Kalau pun ada situasi yang tidak pasti, yang tidak enak, bisa membuatnya menjadi sesuatu yang berguna, berpeluang bagi dia. Jadi artinya dia tetap punya cara untuk mengatasi problem-problem yang dihadapi. Ini adalah prinsip yang ketiga. Tampaknya mungkin sederhana, tapi ini adalah kunci yang penting

prinsip yang keempat, prinsip yang keempat adalah crazy quilt. Crazy quilt yaitu kumpulan dari perca-perca kain yang dijahit sehingga menghasilkan sebuah selimut yang indah. Apa maksud dari crazy quilt ini? Crazy quilt ini adalah kemampuan seorang entrepreneur membangun network dari pihak-pihak yang lain, jadi banyak-banyak pihak seperti pecahan-pecahan perca-perca kain ini dia kumpulkan, dia jadikan satu sehingga berguna buat dia. Jadi kalau misalnya, saya misalnya punya banyak teman, punya setumpuk atau sekotak kartu nama orang-orang yang pernah saya kenal, tapi tidak pernah saya ajak bekerja sama,

prinsip yang kelima adalah Pilot In The Plane. Apa maksudnya? Kita menganggap bahwa hidup kita ini adalah sebuah pesawat dimana kita adalah pilotnya. Maka, kita lah yang menentukan pesawat kita ini mau ke mana. Kita harus bisa mengontrol kemana kita mau menuju. 

 ( Nur Agustinus )



 GOAL

     Yang pertama kita harus memiliki goal atau target. Kapan kita akan menjadi usaha besar. Kita pertama harus punya mimpi. Punya visi bahwa bisnis saya nanti akan menjadi bisnis besar. Itu tidak perlu diomong-omongkan ke orang. Tidak perlu dicuap-cuapkan itu menjadi sombong, tapi kalau Anda dalam hati, dalam pikiran Anda tanamkan bahwa kalau nanti akan menjadi besar itu akan lebih bagus.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,yaitu   :

Yang pertama adalah memanage keuangan. Jadi kuncinya di keuangan. Karena kita seringkali tidak bisa memilah antara uang untuk perusahaan atau bisnis dan uang untuk pribadi. Yang paling sering terjadi uang bisnis dipakai uang pribadi. Sudah pasti hancur itu.

yang kedua, ketika sudah bisa memilah antara bisnis sama pribadi tadi. Kita juga harus konsisten mengontrol keuangan kita. Kita menjadi memiliki tantangan yang cukup besar. Ketika bisnis mulai merambah naik, kemudian keuntungan sudah mulai kelihatan, kita lengah untuk melakukan kontrol kontrol keuangan utamanya dan kontrol bisnis. Karena dua ini selalu didapatkan atau profit itu didapatkan dari pendapatan dikurangi biaya itu adalah profit. Dua sumber tadi, entah pendapatan, entah biaya, ini yang harus kita kontrol supaya profitnya tetap. Dalam kondisi ini.
      Nah, ketika itu sudah dilakukan, kita harus memikirkan pengembangan.Nah, ini perlu ada pengembangan usaha. Entah itu cabang di sebelah mana kerena itu bagus juga untuk branding. Jadi kita harus memiliki supaya brand kita lebih dikenal oleh masyarakat atau pasar, kita harus memiliki cabang yang banyak.
    Para UMKM tidak usah ragu untuk mengembangkan usaha ini selama itu masih dilakukan dengan konsisten. Lagi-lagi ini permasalahan konsistensi kita untuk menjaga diri dan mengembangkan usaha ini karena cukup sering terjadi karena bahwa ketika kita sudah mulai besar, sudah mulai malas mengontrol, dan kita serahkan semuanya ke orang lain tanpa ada kontrol dan di situlah kemudian mulai letak penurunan mulai terjadi. Ketika itu mulai terjadi, Anda belum terasah, begitu turun lagi, mulai hancur, Anda baru terasa. Dan itulah penyebabnya kenapa di beberapa UMKM juga tidak bisa menjadi besar karena dia belum bisa melakukan hal-hal yang saya sampaikan tadi secara konsisten. Anda jangan percaya. Tapi Anda coba dulu.

    Rumus ABBA. “A”nya apa? Amati, Bertanya, Berdiskusi, dan Analisa. Siapa yang diaamati? Siapa yang diajak bertanya? Siapa yang diajak berdiskusi? Siapa lagi kalau bukan pelanggan? Nah, Joko rupanya sudah paham bahwa pelanggan adalah sumber informasi, sumber inspirasi, dan sumber inovasi, seperti yang dikatakan oleh Pak Ciputra.
Yusak Anshori 

  entrepreneur succes

Diri kita menjadi lebih baik kalau terjadi suatu transformation dan suatu transformation itu harus dilakukan sangat intensif dan fokus dan konsisten tiga itu intensity, focus and consistence.
Pertumbuhan perusahaan itu kan bisa dengan dua jalur, yaitu adalah pertumbuhannya dengan organik tumbuh dengan bisnis yang ada atau dengan cara inorganik, dengan cara akuisisi. Nah akuisisi adalah sebuah karya yang membutuhkan kompetensi tersendiri. Ini membutuhkan kompetensi tersendiri bukan semua orang mempunyai kompetensi di sana. Pada saat saya mengembangkan perusahaan ini dan mulai memandang bahwa kita perlu tumbuh dengan cara inorganik di situlah kita mengalami proses pembelajaran baru dengan mengalami beberapa kegagalan. Akuisisi itu gagal.
Tips saya yang terakhir terkait dengan tadi, seorang entrepreneur succes nya bisa ditingkatkan kalau dia me-manage 4 jenis kompetensi.
Pertama kompetensi yang harus dibangun adalah setiap industri itu ada know-howsendiri membutuhkan know-how atau mempunyai teknologi yang berbeda-beda di sini maka kompetensi adalah penguasa terhadap know-how di industri itu harus dilakukan. Katakan saja sebuah bisnis itu kelihatan dekat misalnya saya itu perusahaan makanan dan minuman, dengan begitu kita misalnya mungkin katakanlah seperti Starbucks, itu sudah bisnis yang berbeda. Itu belong to different industry, retail food itu sudah industry yang berbeda dengan makanan minuman yang manufacturing ini. Apalagi kalau saya lompat misalnya dari katakanlah makanan minuman yang sekarang ini saya membantu anak saya masuk ke industri kelapa sawit misalnya. Ini sudah menyebrang industri yang berbeda sekali makanya harus dipelajari know-how nya ini. Kalau kita mempelajari tidak bisa ada kemungkinan kita beli tarik profesional yang bisa, tapi kompetensi yang pertama harus dikuasai.
Kedua tiap industri succes rate nya sangat ditentukan bagaimana manage network itu, network itu bisa ke belakang supplier bisa ke depan costumer bisa ke samping kalau pake konsepnya chin chia mengenai value chain dia ada 4 dimensi itu dia, dan kalau ini kita manage dengan baik maka itu juga succes ratenya akan meningkat. Saya itu cuma stainless steel itu bahkan sama sekali tidak tahu pemain-pemain yang bergerak di bidang ini di upstreamnya yang seharusnya menjadi supplier saya. Itu tentunya menjadi tantangan tersendiri, know-hownya juga pada waktu itu masih sedang belajar dua kompetensi sudah saya kena.
Ketiga bisnis itu pada akhirnya pada ujung-ujungnya adalah butuh duit. Kaya tubuh kita perlu darah kalau nggak ada duitnya bagaimana susahnya. Makanya di situ itu harus dipikirkan sumber duitnya bisa dari share holder kita tarik financial partner, atau bisa pinjam dari bank. Syukur-syukur kalau jadi menantunya orang kaya. Nah ini yang ketiga, kompetensi harus dimiliki.
Keempat adalah manajemen. Ini kita bisa tarik managing partner karena manajemen itu termasuk di dalamnya leadership barang yang kelihatannya abstrak, tetapi itu impactnya sangat nyata. Kalau kita kuasai dan kita bangun semua 4 kompetensi ini entah diri kita sendiri yang menguasainya, entah kita dengan cara berpartner, entah kita merekrut orang yang bisa menutup kompetensi tadi baik dari segi know-how, network, manajemen dan keuangan, maka succes rate dari perusahaan tersebut akan meningkat. Nah itu saja tips terakhir kalau kita mau membangun usaha baru yang kira-kira bisa kita perbaiki succes rate nya.

Sudhamek AWS

No comments:

Post a Comment